Bingung Pilih Sepatu Training Pria? Cek 3 Pilihan Ini Sebelum Checkout
kep - Rekomendit
Rabu, 10 Jun 2026 17:52 WIB
Pernah nggak, kamu ngerasa pas squat kaki rasanya nggak stabil, padahal teknik udah bener? Atau waktu lompat-lompat di HIIT session, kaki cepet capek tanpa sebab jelas? Salah satu penyebab yang sering diabaikan adalah sepatu training yang nggak sesuai jenis latihannya.
Beda jenis workout, beda kebutuhan sepatu. Buat kamu yang rutin ke gym, Tim Rekomendit udah pilihkan 3 sepatu training pria yang worth it dicoba, dari pilihan budget-friendly lokal sampai yang udah proven di gym kelas dunia.
Buat yang cari sepatu training pria dengan harga terjangkau tapi nggak mau kompromi soal kenyamanan, ANTA EBUFFER Lite bisa jadi pilihan utama. Merek asal Tiongkok ini sudah dikenal sebagai merek olahraga terbesar ketiga di dunia secara global dan hadir di Indonesia dengan harga yang jauh lebih bersahabat dibanding kompetitornya dari Barat.
Teknologi unggulan EBUFFER Lite ada di midsole-nya. Busa EBUFFER memiliki ketahanan terhadap panas yang tinggi, sehingga elastisitas dan kemampuan cushioning-nya tetap terjaga meski sering dipakai intensif. Material upper menggunakan mesh elastis yang breathable, dilengkapi lining A-CHILL TOUCH dari ANTA yang punya efek pendinginan, sangat cocok buat kondisi gym Indonesia yang cenderung panas. Sol-nya menggunakan material EVA/TPU dengan desain fleksibel untuk mendukung gerakan multi-arah.
Cocok untuk: Latihan gym campuran ringan hingga sedang, workout harian, pemula hingga intermediate yang cari sepatu all-around tanpa harus keluar budget besar.
Nike MC Trainer 3 adalah lompatan besar dari versi sebelumnya. Kalau kamu pernah pakai MC Trainer 2 dan merasa kurang cushioning, versi ketiga ini hadir dengan peningkatan stack height heel dari 23.1mm ke 30.6mm, naik signifikan. Artinya, sepatu ini sekarang punya perlindungan benturan yang jauh lebih baik untuk kamu yang suka mix antara lifting dan latihan berdampak tinggi seperti box jump atau sesi cardio singkat.
Berdasarkan pengujian lab RunRepeat, Nike MC Trainer 3 mencatat angka shock absorption sebesar 97 di heel dan 83 di forefoot, dua angka yang berada di atas rata-rata kategori sepatu training. Energy return-nya berada di 52.2% untuk heel dan 54.6% di forefoot, bikin transisi antar gerakan terasa lebih mulus dan responsif.
Upper mesh breathable-nya membuat sepatu ini nyaman dipakai sepanjang sesi gym, dan flat base-nya memberikan stabilitas yang solid untuk gerakan lateral. Ini adalah salah satu pilihan terbaik untuk budget di bawah Rp 1,5 juta.
Cocok untuk: Gym goers yang mix antara strength training dan high-impact workout seperti HIIT atau jumping exercises. Juga oke buat pemula yang mau investasi di sepatu gym pertama yang berkualitas.
Kalau kamu serius angkat beban dan butuh sepatu yang benar-benar "nempel" ke lantai, Adidas Dropset Base adalah jawabannya. Seri Dropset dari Adidas memang dirancang dari awal untuk strength training, bukan sepatu lari yang di-repurpose jadi training shoe.
Keunggulan utamanya ada di konstruksi sole. Forefoot yang lebar dengan build low-to-the-ground memberikan base yang stabil saat kamu squat berat atau deadlift. Outsole dengan pola lug multi-arah dari karet memberikan traksi solid di segala posisi, cocok untuk gerakan explosive sekalipun. Upper mesh breathable-nya diperkuat dengan 3D overlay untuk support ekstra, sementara midsole REPETITOR milik Adidas menghadirkan energy return yang konsisten dan terasa stabil di setiap rep.
Berbeda dari Nike MC Trainer 3 yang lebih serbaguna, Dropset Base lebih berpihak ke stability dan grounded feel. Kalau kamu tipe yang session gym-nya 80% angkat beban dan 20% sisanya gerakan dinamis, ini pilihan yang pas.
Cocok untuk: Lifter serius, pria yang fokus ke strength program (squat, deadlift, overhead press), dan gym goers yang butuh sepatu dengan base stabil dan traksi maksimal.
Tidak disarankan. Sepatu lari dirancang dengan cushioning tebal dan heel elevated untuk menyerap benturan saat berlari, yang justru kontraproduktif saat angkat beban. Saat deadlift atau squat, kamu butuh sepatu dengan sole datar dan base stabil agar energi dari kaki tersalur optimal ke barbel, bukan terserap midsole. Sepatu training punya konstruksi yang lebih grounded dan lateral support yang lebih baik untuk kebutuhan ini.
Sepatu training umumnya lebih fokus ke satu tipe aktivitas, misalnya strength training atau gym workout umum. Cross training shoe dirancang untuk lebih versatile antara beberapa jenis latihan sekaligus, seperti kombinasi weightlifting, HIIT, dan sedikit lari. Nike MC Trainer 3 dan Adidas Dropset Base keduanya bisa dikategorikan sebagai cross training shoe karena bisa dipakai untuk lebih dari satu jenis workout.
Untuk latihan recreational hingga intermediate, ANTA EBUFFER Lite cukup solid. Namun untuk program strength serius dengan beban sangat berat, sole EVA/TPU-nya masih lebih lunak dibanding Adidas Dropset yang punya konstruksi lebih rigid dan base yang lebih lebar. Kalau kamu lagi di tahap awal program gym dan belum angkat beban ekstrem, ANTA EBUFFER Lite sudah lebih dari cukup.
Rata-rata sepatu training bertahan 6 hingga 12 bulan untuk penggunaan gym intensif 4 kali seminggu. Tanda-tanda perlu ganti antara lain: sol mulai aus di titik tertentu, cushioning terasa flat, atau kaki mulai terasa pegal padahal belum olahraga terlalu lama. Simpan di tempat kering dan hindari pakai ke aktivitas lain di luar gym untuk memperpanjang umur pakainya.
Untuk lari pendek di sesi workout atau warm-up ringan di treadmill, Nike MC Trainer 3 cukup mampu karena heel stack-nya yang sudah cukup tinggi dan shock absorption di atas rata-rata. Tapi untuk lari jarak jauh atau outdoor running reguler, tetap lebih baik pakai sepatu lari yang memang dirancang untuk purpose itu.