Gaya Main Kamu Klasik Solid atau Playmaker Lincah? Ini Cara Pilih Sepatu Bola
Ghefira Nur Fatimah - Rekomendit
Rabu, 09 Sep 2026 16:03 WIB
Musim kompetisi sepak bola nasional baru saja bergulir awal September ini, dan buat kamu yang ikut liga tarkam atau rutin ikut sparing mingguan, momentum ini biasanya jadi alasan buat upgrade sepatu bola. Masalahnya, rak sepatu bola sekarang penuh model dengan klaim yang mirip-mirip semua. Padahal yang paling menentukan bukan mereknya, tapi gaya main kamu sendiri di lapangan.
Dua Tipe Sepatu Bola yang Perlu Kamu Kenali
Secara garis besar, sepatu bola firm ground modern terbagi ke dua filosofi desain. Tipe pertama adalah boot klasik low-maintenance, dengan upper sintetis solid dan konstruksi minim ornamen, dirancang buat pemain yang mengutamakan kenyamanan dan daya tahan tanpa banyak fitur tambahan.
Tipe kedua adalah boot playmaker, dengan upper ringan dan lidah slip-on elastis, dilengkapi zona bertekstur di permukaan atas untuk menambah cengkeraman ke bola saat menggiring atau mengumpan.
Kapan Kamu Butuh Boot Klasik Low-Maintenance
Boot tipe ini cocok kalau posisi kamu lebih banyak bertahan, jadi gelandang box-to-box, atau memang tipe pemain yang jarang telaten merawat sepatu. Upper sintetis solidnya lebih tahan gesekan dan tidak gampang robek meski dipakai latihan intens tiap minggu. Sol luarnya biasanya TPU ringan dengan stud berbentuk kerucut, pas untuk permukaan tanah keras maupun rumput buatan.
Kelemahannya, karena mengejar durabilitas, sentuhan ke bola cenderung standar saja, tidak ada zona khusus buat menambah kontrol dribbling.
PUMA
PUMA Sepatu Sepak Bola FUTURE 9 PLAY FG/AG Uniseks
Rp899.000 di
Shopee
“harga saat kami review”
Kapan Kamu Butuh Boot Playmaker
Kalau posisi kamu di lini serang, winger, atau memang suka menggiring bola lewat banyak pemain, boot playmaker lebih masuk akal. Zona timbul yang ditargetkan di bagian upper menambah cengkeraman ke bola, jadi setiap sentuhan terasa lebih presisi baik saat mengumpan pendek maupun menyelesaikan peluang. Pola stud di sekitar pivot point juga dirancang mendukung kelincahan gerak 360 derajat, berguna banget buat perubahan arah mendadak melewati bek lawan.
Kekurangannya, upper yang ringan dan tipis biasanya kurang tahan lama dibanding boot klasik kalau dipakai untuk latihan setiap hari.
Hal Lain yang Perlu Kamu Cek Sebelum Beli
Selain gaya main, perhatikan juga tipe permukaan lapangan tempat kamu biasa bertanding. Kedua tipe boot di atas sama-sama cocok untuk permukaan tanah keras dan rumput buatan (FG/AG), tapi kalau lapangan tempat kamu main sering becek atau berlumpur, kamu perlu tipe stud yang berbeda, bukan FG/AG biasa.
Cek juga persentase material daur ulang pada upper. Beberapa lini sepatu bola sekarang sudah menggunakan setidaknya 20 sampai 30 persen bahan daur ulang, yang biasanya juga berpengaruh ke bobot dan tekstur permukaan sepatu.
Cocok untuk Siapa?
Boot klasik low-maintenance cocok untuk kamu yang posisi bertahan, jarang telaten rawat sepatu, dan butuh boot yang awet dipakai latihan rutin. Boot playmaker lebih pas untuk kamu di lini serang yang mengandalkan kontrol bola dan kelincahan, serta tidak keberatan merawat upper yang lebih tipis.
FG (Firm Ground) dirancang untuk lapangan rumput alami yang padat, sementara AG (Artificial Ground) untuk rumput sintetis. Sepatu berlabel FG/AG biasanya dirancang fleksibel dipakai di kedua jenis permukaan tersebut.
Cenderung iya, karena upper-nya lebih tipis dan ringan untuk mengejar sensitivitas kontrol bola. Kalau kamu latihan setiap hari, boot klasik dengan upper sintetis solid biasanya lebih tahan lama.
Tidak selalu. Sepatu bola umumnya dirancang dengan fit yang lebih rapat di kaki dibanding sneakers kasual, jadi selalu cek panduan ukuran resmi dari brand sebelum memutuskan size.
Tergantung intensitas pemakaian, tapi untuk pemain yang main atau latihan 2-3 kali seminggu, sepatu bola berkualitas biasanya bertahan satu sampai dua musim sebelum sol atau upper mulai aus.